Inflasi Inti Jepang Desember Cenderung Stabil, Kebijakan BOJ Terlihat Tidak Berubah

Harga konsumen Jepang diperkirakan akan membukukan kenaikan 12 bulan berturut-turut pada bulan Desember, menurut hasil jajak pendapat Reuters, meskipun inflasi yang terus-menerus moderat akan menekan bank sentral untuk mempertahankan rangsangannya untuk memenuhi target 2 persen.

Para ekonom memproyeksikan Bank of Japan (BOJ) akan mempertahankan suku bunga jangka pendeknya di minus 0,1 persen dan target yield obligasi pemerintah 10 tahun sekitar nol persen minggu depan, menurut jajak pendapat tersebut.

Data minggu depan juga mencakup ekspor untuk bulan Desember, yang terlihat meningkat selama 13 bulan berturut-turut, berkat permintaan luar negeri untuk peralatan manufaktur semikonduktor, baja dan mobil.

Indeks harga konsumen inti nasional (CPI), yang mencakup produk minyak namun tidak termasuk harga makanan segar yang volatile, kemungkinan tumbuh 0,9 persen pada bulan Desember dari tahun lalu, tingkat yang sama dengan bulan November, menurut jajak pendapat terhadap 20 ekonom.

Para ekonom mengatakan kenaikan harga listrik dan gas melambat, sementara produk minyak bumi terus mendukung inflasi konsumen.

Analis memperkirakan harga konsumen inti di Tokyo, tersedia sebulan sebelum data nasional, naik 0,8 persen pada Januari, juga tidak berubah dari Desember.

“Kami berharap indeks CPI inti akan bertahan di level yang sama dalam beberapa bulan ke depan,” kata Yoshiki Shinke, kepala ekonom sebuah Institut Riset Kehidupan Dai-ichi.

“Harga minyak dan negosiasi upah tahunan di musim semi akan diawasi ketat untuk prospek informasi konsumen.”

Perdana Menteri Shinzo Abe telah mendorong perusahaan Jepang menaikkan upah sebesar 3 persen atau lebih untuk mendukung belanja konsumen, sehingga mendorong inflasi.

Kementerian dalam negeri akan mengumumkan data harga konsumen pada pukul 8:30 am waktu Tokyo pada 26 Januari (2330 GMT pada 25 Januari)

Jajak pendapat tersebut menunjukkan ekspor tumbuh 10,1 persen di bulan Desember dibandingkan dengan tahun lalu, naik selama 13 bulan berturut-turut namun laju pertumbuhan yang diharapkan lebih lambat dari 16,2 persen di bulan November.

Impor diperkirakan akan menunjukkan kenaikan 12,3 persen, yang akan membuat surplus perdagangan sebesar 530,0 miliar yen (4,78 miliar dollar), jajak pendapat tersebut menunjukkan.

“Ekspor terus tumbuh namun pemulihan permintaan domestik dan kenaikan biaya impor karena harga minyak yang lebih tinggi mengurangi surplus perdagangan,” kata Takumi Tsunoda, ekonom senior di Shinkin Central Bank Research Institute.

Kementerian keuangan akan merilis data perdagangan pada pukul 8:50 pagi pada 24 Januari (2350 GMT pada 23 Januari).

BOJ ditetapkan untuk mempertahankan ramalan harga optimis minggu depan dan melukis gambaran ekonomi yang sedikit lebih baik daripada tiga bulan yang lalu, menandakan keyakinannya bahwa negara tersebut membuat kemajuan yang lamban namun stabil dalam memberantas deflasi.